mengetahui hubungan faktor resiko penyakit Diabetes Mellitus pada penderita dan tidak penderita Diabetes

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Saat ini, masyarakat Indonesia terutama yang di perkotaan mengalami pergeseran pola konsumsi pangan. Namun, seiring dengan kemajuan zaman dan perbaikan sosial ekonomi masyarakat terjadi pula perubahan kebiasaan makan yang cenderung kebarat – baratan. Makanan jadi dan makanan siap saji telah menjadi kegemaran dan tren di masyarakat (Sulistijani, 2002).

Masyarakat umumnya belum atau kurang menyadari bahwa makanan jadi telah mengalami banyak kehilangan komponen – komponen esensial makanan, khususnya serat. Makanan siap saji juga umumnya mempunyai kandungan lemak dan protein tinggi, tetapi miskin serat. Asupan serat yang terlampau rendah dalam waktu lama akan mempengaruhi kesehatan, kegemukan, dan serangan penyakit degeneratif, salah satunya Diabetes Mellitus (Sulistijani, 2002).

Diabetes saat ini menjadi penyakit yang mulai menjangkiti penduduk di negara-negara berkembang seperti Indonesia.  WHO memperkirakan pada 2030 nanti sekitar 21,3 juta orang Indonesia terkena diabetes. Menurut Ketua Indonesian Diabetes Association (Persadia) Prof.Dr. dr. Sidartawan Soegondo SpPD-KEMD FACE, DM tipe 2 merupakan yang terbanyak diderita, yaitu sekitar 95% dari keseluruhan kasus DM. Diabetes tipe 2 adalah diabetes yang tidak terkait dengan insulin. Faktor risiko terjadinya diabetes tipe 2 antara lain adalah faktor makanan yang dikonsumsi seperti sering mengonsumsi minuman dengan pemanis gula seperti soft drinks dan fruit drink (minuman buah dalam kemasan) serta kurang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan (Reta, 2008).

Prevalensi diabetes secara menyeluruh sekitar 6% dari populasi, 90% di antaranya diabetes tipe 2. Jumlah penderita diabetes secara global terus meningkat setiap tahunnya. Menurut data yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care tahun 2004, penderita diabetes di Indonesia pada tahun 2000 mencapai 8,4 juta orang dan menduduki peringkat ke–4 setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kalinya pada tahun 2030, yaitu menjadi 21,3 juta orang (Subroto, 2006).

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kelainan metabolisme yang disebabkan kurangnya hormon insulin untuk proses metabolisme karbohidrat secara normal (Sulistijani, 2002). Insulin mempunyai peran utama dalam mengatur kadar glukosa di dalam darah yaitu memasukkan glukosa kedalam sel. Diabetes Mellitus diartikan sebagai penyakit metabolisme yang termasuk dalam kelompok gula darah yang melebihi batas normal atau hiperglikemia (lebih dari 120 mg/dl atau 120 mg%) (Utami, 2004).

Adanya masalah penyakit Diabetes Melltus yang semakin meningkat dimasyarakat akan semakin bertambah bila tidak ditangani dengan baik dan disertai dengan penerapan gaya hidup yang sehat dan kebiasaan makan yang baik. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor resiko penyakit Diabetes Mellitus pada penderita dan tidak penderita Diabetes Mellitus di Kabupaten Bogor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan Umum

            Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor resiko penyakit Diabetes Mellitus pada penderita dan tidak penderita Diabetes Mellitus (pengetahuan gizi, perilaku makan, dan gaya hidup ( lifestyle ) dengan status gizi pada masyarakat perkotaan.

Tujuan Khusus

  1. Mengidentifikasi karakteristik contoh yang meliputi : jenis kelamin, berat badan, umur, pendapatan.

2.      Mengidentifikasi kebiasaaan makan contoh meliputi : riwayat makan dan konsumsi pangan.

3.      Mengidentifikasi gaya hidup contoh meliputi : aktivitas / olahraga, kebiasan merokok dan kebiasaan mengkonsumsi alkohol.

4.      Menganalisis tingkat pengetahuan dan status gizi contoh.

5.      Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan gizi, kebiasaan makan dan gaya hidup dengan status gizi contoh.

 

Kegunaan Penelitian

            Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi kepada masyarakat terutama pada penderita penyakit Diabetes Mellitus tentang pentingnya menjaga kesehatan dengan cara meemperbaiki dan mengetahui pola makan yang baik serta gaya hidup yang sehat. Selain itu, diharapkan pula penelitian ini dapat berguna untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan di bidang kesehatan.

 

 

 

 

 

 

KERANGKA PEMIKIRAN

Perubahan gaya hidup merupakan salah satu yang dapat menimbulkan tingginya angka kasus diabetes dikarenakan  pergeseran gaya hidup masyarakat di era globalisasi, khususnya yang bermukim di kawasan perkotaan karena mudahnya mendapatkan makanan yang siap saji. Menurut buku Diabetes (2004), salah satu aspek paling menonjol adalah tingginya konsumsi makanan gaya barat yaitu tinggi karbohidrat, protein dari hewani dan lemak yang kandungan seratnya rendah serta dibarengi dengan minuman ringan yang kadar gulanya tinggi.

Perubahan gaya hidup ini juga membuat banyak orang minim gerak lantaran tinggal di dalam ruangan. Banyak anak lebih suka duduk di depan televisi dan komputer daripada menghabiskan waktu di luar rumah. Padatnya kesibukan kerja dan tingginya pemakaian kendaraan pribadi mengakibatkan orang dewasa kian minim gerak dan malas berolahraga.

Olahraga dapat secara efektif mengontrol diabetes, antara lain dengan melakukan senam khusus diabetes, berjalan kaki, bersepeda, dan berenang. Diet dipadu dengan olahraga merupakan cara efektif mengurangi berat badan, menurunkan kadar gula darah, dan mengurangi stres. Latihan teratur dapat menurunkan tekanan darah, kolesterol, dan risiko terkena serangan jantung, serta memacu pengaktifan produksi insulin dan membuatnya bekerja lebih efisien.

Kebiasaan dan pola makan yang salah juga meningkatkan risiko terkena diabetes. Kurang gizi (malnutrisi) dapat merusak pankreas, sedangkan obesitas (gemuk berlebihan) mengakibatkan gangguan kerja insulin. Kurang gizi dapat terjadi pada janin lantaran ibunya merokok atau mengonsumsi alcohol dan diet ketat.

Konsumsi pangan berkaitan erat dengan masalah gizi dan kesehatan serta perencanaan produksi pangan, maka kegiatan pengumpulan informasi tentang konsumsi pangan seseorang atau kelompok orang (keluarga, institusi) mulai disadari manfaatnya. Konsumisi pangan merupakan informasi tentang jenis dan jumlah pangan yang dimakan (dikonsumsi) seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu. Konsumsi pangan dapat ditinjau dari aspek jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi.

 

 

Genetik

Kebiasaan Makan

Ø      Riawayat Makan

Ø      Konsumsi Pangan

Karakteristik Contoh

Ø            Jenis Kelamin

Ø            Umur

Ø            Berat Badan

Ø            Pendidikan

Ø            Pendapatan

Ø            Pengetahuan      Gizi

Gaya Hidup

Ø      Aktivitas

Ø      Olahraga

Ø      Kebiasaan Merokok

Ø      Kebiasaan Minum Alkohol

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

          PENDERITA

  DIABETES MELLITUS

 

 

 

 

 

 

 

Status Gizi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PENELITIAN

Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian

Desain penelitian ini adalah Cross Sectional Study. Penelitian akan dilaksanakan di Rumah Sakit. Tempat penelitian ditentukan secara purposive, dengan pertimbangan       di Rumah Sakit tersebut banyak penderita Diabetes Mellitus. Waktu penelitian akan berlangsung selama 3 bulan pada tahun 2009.

Jumlah dan Cara Penentuan Contoh

Jumlah penderita Diabetes Mellitus yang rawat jalan sebanyak 10-15 orang setiap hari. Cara penentuan contoh dilakukan dengan  purposive sampling, dimana kriteria sampelnya adalah : 1) Penderita Diabetes Mellitus tipe II, berusia > 30 tahun; 2) Penderita Diabetes Mellitus dengan komplikasi ringan; 3) dapat berkomunikasi dengan baik dan bersedia diwawancarai.

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

            Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan  data sekunder. Jenis data primer yang dikumpulkan adalah 1) karakteristik contoh (umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan,pendidikan, dan pendapatan); 2) pengetahuan gizi 3) kebiasaaan makan (riwayat makan dan konsumsi pangan); 4) gaya hidup (aktivitas / olahraga, kebiasaan merokok, dan kebiasaan mengkonsumsi alkohol), dan status gizi (perbandingan berat badan dan tinggi badan) contoh.

            Data primer tersebut dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Data berat badan dan tinggi badan diperoleh dengan cara pengukuran langsung di tempat pengambilan data primer. Data sekunder yang dikumpulkan kadar gula darah.

 

 

 

 

 

 

 

                        Tabel 1. Jenis dan cara pengumpulan data primer

Variabel

Data yang dikumpulkan

Cara pengumpulan data

Karakteristik Contoh

1.   Umur

2.   Jenis kelamin

3.   Pendidikan

4.   Pendapatan

Wawancara (Kuesioner)

Pengetahuan Gizi

1.   Definisi zat gizi

2.   Jenis pangan untuk penderita DM

3.   Dampak diit yang tidak sesuai untuk penderita DM

Wawancara (Kuesioner)

Gaya Hidup

1.   Kebiasaan olahraga

2.   Kebiasaan merokok

3.   Kebiasaa konsumsi alkohol

Wawancara (Kuesioner)

Kebiasaan Makan

1. Riwayat makan dulu dan sekarang

     – Frekuensi makan

     – Kebiasaan sarapan

     – Jenis makanan

2. Konsumsi pangan

       -Makanan pokok

       – Lauk hewani

       – Lauk nabati

       – Sayur-sayuran

       – Buah-buahan

       – Susu dan olahannya

Wawancara (Kuesioner)

Status Gizi

1. Berat badan (kg)

2. Tinggi badan (cm)

        IMT (kg/m2)

BB diukur dengan  bathroom scale (kg)

TB diukur dengan microtoise (cm)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengolahan dan Analisis Data

Data yang akan diperoleh kemudian dilakukan proses entri, editing, dan coding, kemudian akan diolah dengan komputer menggunakan program Microsoft Excel dan dianalisis secara deskriptif dan inferensia dengan program Statistical Program for Social Science (SPSS for Windows versi 14.0). Pengolahan data karakteristik contoh (umur, jenis kelamin, pendidikan, dan sosial ekonomi) diberi kode, selanjutnya diberi kriteria untuk kategori dan disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis secara deskriptif.

Pengetahuan gizi akan diukur dengan pertanyaan tentang definisi zat gizi, jenis pangan untuk penderita Diabetes Melltius, dampak diit yang tidak sesuai untuk penderita Diabetes Mellitus. Penilaian pengetahuan gizi dilakukan dengan memberi skor. Bila menjawab tidak tahu diberi skor 0, untuk jawaban setengah benar diberi skor 1, sedangkan untuk jawaban seluruhnya benar diberi skor 2. Kategori pengetahuan gizi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kategori pengetahuan gizi tingkat rendah bila skor <60.0%, kategori pengetahuan gizi tingkat sedang bila skor 60.0-80.0%,  dan kategori pengetahuan gizi tingkat tinggi bila skor >80.0% (Khomsan 2000).

Gaya hidup diukur berdasarkan kebiasaan olahraga, kebiasaan merokok, dan kebiasaan mengkonsumsi alkohol. Kebiasaan olahraga diukur dengan frekuensi olahraga selama satu bulan terakhir, yang dikelompokkan menjadi 3, yaitu 1) frekuensi <10 kali/bulan; 2) frekuensi 10-20 kali/bulan; dan 3) frekuensi >21 kali/bulan. Penilaian kebiasaan merokok berdasarkan jumlah rokok yang dihisap dikelompokkan menjadi 4, yaitu 1) non perokok; 2) perokok ringan (1-10 batang/hari); 3) perokok sedang (11-20 batang/hari); dan 4) perokok berat (>20 batang/hari). Adapun penilaian kebiasaan konsumsi alkohol diukur berdasarkan pernah tidaknya mengkonsumsi alkohol selama satu bulan terakhir, yang dikelompokkan menjadi 2, yaitu 1) tidak (0 kali/bulan); dan 2) ya (>1 kali/bulan).

 

 

Data mengenai kebiasaan makan terdiri dari riwayat makan dahulu dan sekarang serta konsumsi pangan. Riwayat makan dahulu dan sekarang diukur dengan frekuensi makan/hari, kebiasaan sarapan, jenis makanan yang dikonsumsi. Penilaian frekuensi makan diukur berdasarkan frekuensi konsumsi dalam sehari, yang dikelompokkan menjadi 3, yaitu 1) frekuensi <2 kali/hari; 2) frekuensi 3 kali/hari; dan 3) frekuensi >4 kali/hari. Penilaian kebiasaan sarapan diukur berdasarkan frekuensi sarapan per minggu, yang dikelompokkan menjadi 4, yaitu 1) tidak pernah (0 kali/minggu); 2) jarang (1-2 kali/minggu); 3) kadang (3-4 kali/minggu); dan 4) sering (5-7 kali/minggu). Penilaian jenis makanan diukur berdasarkan susunan hidangan dalam setiap kali makan, yang dikelompokkan menjadi 3, yaitu 1) makanan pokok dan lauk pauk; 2) makanan pokok, lauk-pauk dan buah-buahan; 3) makanan pokok, lauk-pauk dan sayuran; dan 4) makanan pokok, lauk-pauk, sayuran dan buah-buahan.

Konsumsi jenis pangan diukur berdasarkan frekuensi konsumsi jenis pangan tertentu dalam satu bulan terakhir, yang dikelompokkan menjadi 4, yaitu 1) bila sama sekali tidak mengkonsumsi jenis pangan tertentu termasuk kategori tidak pernah; 2) bila mengkonsumsi jenis pangan tertentu dengan frekuensi 1-2 kali/minggu termasuk kategori jarang; 3) bila mengkonsumsi jenis pangan tertentu dengan frekuensi 3-4 kali/minggu termasuk kategori kadang; dan bila mengkonsumsi jenis pangan tertentu dengan frekuensi >5 kali/minggu termasuk kategori sering.

Status gizi contoh diukur berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT), dengan kategori sebagai berikut :

Kategori Status Gizi

Nilai IMT

Underweight

Normal

Overweight

· Pre Obese

· Obese I

· Obese II

· Obese III

<18.5

18.5-24.9

>25

25-29.9

30-34.9

35-39.9

>40

Sumber: WHO (2000)

 

Uji korelasi Spearman digunakan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan yang erat antara pengetahuan gizi, kebiasaan makan dan gaya hidup dengan status gizi contoh. Sedangkan uji beda Mann-Whitney digunakan untuk menguji signifikansi perbedaan antara karakteristik contoh, pengetahuan gizi, gaya hidup, kebiasaan makan antara penderita Diabetes Mellitus dengan bukan penderita Diabetes Mellitus.

Tabel 2. Cara pengkategorian dan analisis variabel penelitian

Variabel

Kategori Pengukuran

1. Karakteristik contoh

 

    Umur

   

1. 18 – 39 tahun (Dewasa Awal)

2. 40 – 60 tahun (Dewasa Madya)

3. > 60 tahun (Dewasa Akhir)

     Pendidikan

1. Tidak tamat SD                  4. SLTA/sederajat

2. SD/sederajat                       5. PT/sederajat

3. SLTP/sederajat

     Pendapatan

(BPS Kabupaten Bogor    2006)

1. Miskin (< Rp. 183.067,00/kap/bln)

2. Tidak miskin (> Rp. 183.067,00/kap/bln)

2. Pengetahuan Gizi

     (Khomsan 2000)

1. Rendah (skor <60.0%).

2. Sedang (skor 60.0-80.0%)

3. Tinggi (skor >80.0%)

 

3. Gaya Hidup

 

     Kebiasaan Olahraga

1. Frekuensi <10 kali/bulan

2. Frekuensi 10-20 kali/bulan

3. Frekuensi >21 kali/bulan

     Kebiasaan Merokok

1. Non perokok

2. Perokok ringan (1-10 batang/hari)

3. Perokok sedang (11-20 batang/hari)

4. Perokok berat (> 20 batang/hari)

     Konsumsi Alkohol

1. Tidak (0 kali/bulan)

2. Ya (>1 kali/bulan)

 

4. Kebiasaan Makan

 

·   Riwayat Makan

 

              Frekuensi Makan

1. Frekuensi <2 kali/hari

2. Frekuensi 3 kali/hari

3. Frekuensi >4 kali/hari

              Kebiasaan Sarapan

1. Tidak Pernah (0 kali/minggu)

2. Jarang (1-2 kali/minggu)

3. Kadang (3-4 kali/minggu)

4. Selalu (5-7 kali/minggu)

 

 

Variabel

Kategori Pengukuran

              Jenis Makanan

1. Makanan pokok dan lauk pauk

2. Makanan pokok, lauk-pauk dan buah

3. Makanan pokok, lauk-pauk dan sayur

4. Makanan pokok, lauk-pauk, sayur, buah

·         Konsumsi Pangan

1. Tidak Pernah/TP (0 kali/minggu)

2. Jarang/Jrg (1-2 kali/minggu)

3. Kadang/Kdg (3-4 kali/minggu)

4. Sering/Srg (> 5 kali/minggu)

5. Status Gizi Berdasarkan

    Indeks Massa Tubuh (IMT)

    (WHO 2000)

1. Underweight                    : IMT<18.5

2. Normal                                 : 18.5<IMT<24.9

3. Overweight                         : IMT>25

·         Pre Obese                : 25<IMT<29.9

·         Obese I                    : 30<IMT<34.9

·         Obese II                   : 35<IMT<39.9

·         Obese III                 : IMT>40             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Definisi Operasional

Penderita Diabetes Mellitus : Seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula darah diatas normal. ( 80 – 109 mg/dl).

Pendidikan : Jenjang pendidikan/sekolah formal yang pernah diikuti contoh (penderita Diabetes Melitus) berdasarkan lamanya menempuh pendidikan.

Pendapatan : Sejumlah uang yang diterima contoh sebagai penghasilan dari pekerjaannya..

Gaya Hidup : Cara contoh berinteraksi dengan lingkungannya dan melakukan kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam kehidupan sehari-hari, seperti gaya hidup sehat (berolahraga), kebiasaan merokok, dan kebiasaan minum alkohol.

Kebiasaan Makan : tingkah laku atau satu pola perilaku konsumsi manusia yang diperoleh karena terjadi berulang-ulang.

Status gizi : proses pemeriksaan keadaan gizi seseorang dengan cara mengumpulkan data penting, baik yang bersifat yang objektif maupun subjektif, untuk kemudian dibandingkan dengan baku yang telah tersedia.

Konsumisi pangan : informasi tentang jenis dan jumlah pangan yang dimakan (dikonsumsi) seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Anonim. 2000. http://www.who.int/bmi/index.jsp?intropage=intro3.html

Khomsan, A. 2000, Teknik Pengukuran Gizi. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber daya keluarga, Fakultas Pertanian, IPB.

Reta. 2008. Diet Untuk Menghindari Peningkatan Risiko Diabetes Tipe 2. http://www.perawatonline.com/index.php?option=com_content&view=article&catid=7:kep-komunitas&id=41:diet-untuk-menghindari-peningkatan-risiko-diabetes-tipe-2&Itemid=6 [19 Agustus 2008]

Subroto, Ahkam, 2006. Ramuan Herbal Untuk Diabetes Mellitus. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sulistijani, Dina Agoes, 2002. Sehat Dengan Menu Berserat. Trubus Agriwidya, Jakarta.

Utami, Prapti dan Tim Lentera, 2004. Terapi Jus untuk Diabetes Mellitus. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Waspadji,dkk.2004. Pedoman Diet Diabetes Mellitus. Balai Pustaka. FK.UI.Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a comment »

Jurnal Contoh Konsultasi

KONSULTASI GIZI UNTUK MENINGKATKAN TERAPI

DIET BAGI PENDERITA PENYAKIT DEGENERATIF PADA

KELOMPOK IBU-IBU PKK DUSUN PRAYAN GUMPANG

KECAMATAN KARTASURA

 

Yuli Kusumawati dan Siti Zulaekah

Fakultas Ilmu Kedokteran

Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

ABSTRACT

This public service aims at giving nutrition consultation on diet therapy towards people with degenerative disease as well as motivating the community to overcome the disease mainly to those who suffer from it. This autonomous activity is done by planning a diet therapy. The participants of the study are the women who are active in PKK in Rt 02Rw I, Prayan, Gumpang, Kartasura, Sukoharjo. The activities are, namely: individual nutrition consultation conducted during PKK meeting which is conducted monthly and the like. The result shows that people with degenarative disease take a great number in the society of Gumpang Kartasura. Yet, the people’s knowledge on such disease and the diet therapy are still very low. Besides, the people still believe that the food combination in order to conquer the disease is not an important thing as one way of healing it. Based on the facts above this nutrition consultation is very useful to help the people to overcome and to cure the disease.

 

Kata kunci: konsultasi gizi, penyakit degeneratif, ibu PKK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Saat ini di Indonesia terjadi transisi epidemiologi yakni di satu sisi masih tingginya penyakit infeksi misalnya ISPA, thypus abdominalis, TBC dan diare, di sisi lain mulai meningkatnya penyakit degeneratif. Penyakit degeneratif adalah penyakit yang tidak menular seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi atau hipertensi, kanker, stroke, kencing manis atau diabetes mellitus dan lain-lain. Dewasa ini penyakit degeneratif telah menduduki peringkat pertama penyebab kematian di Indonesia. Penyakit-penyakit ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah:

  1. Perubahan pola makan di kalangan keluarga terutama kalangaan menengah keatas yang ditunjukkan dengaan makin banyaknya keluarga mampu yang secara sadar mengalihkan makanan pokoknya ke makanan-makanan berlemak.
  2. Tidak adanya keseimbangan dalam pemenuhan kalori makan. Karena memilih makanan tidak cukup hanya bergizi saja tetapi juga harus bervariasi.
  3. Kelebihan makan, dan
  4. Adanya senyawa radikal bebas dalam tubuh.

Suatu langkah yang bisa diambil sebagai upaya pencegahan dan penanganan penyakit degeneratif ini adalah dengan merubah perilaku hidup masyarakat terutama dalam memilih makanan sehari-hari. Untuk dapat melakukan perubahan ini bisa dilakukan dengan pendidikan kesehatan berupa penyuluhan dan konsultasi gizi baik di rumah sakit maupun di masyarakat.

Konsultasi gizi merupakan serangkaian proses belajar untuk mengembangkan pengertian dan sikap positif terhadap makanan agar penderita dapat membentuk dan memiliki kebiasaan makan yang baik dalam hidup sehari-hari ( PGRS, 1991). Menurut Besty (1997), konsultasi gizi merupakan suatu proses dalam membantu seseorang mengerti tentang keadaan dirinya, lingkungannya dan hubungan dengan keluarganya dalam membangun kebiasaan yang baik termasuk makan sehingga menjadi sehat dan produktif.

 

 Ada empat langkah dalam penatalaksanaan konsultasi gizi yaitu:

1. Tahap perlibatan (involving)

2. Tahap penjelasan (exploring)

3. Taahap pemecahan masalah (resolving)

4. Tahap kesimpulan (concluding)

Hasil yang diharapkan dari proses ini adalah adanya transfer pengetahuaan tentang gizi dan sikap penderita terhadap bagaimana sebaiknya terapi diet atau makanan yang harus dimakan oleh orang sakit. Selama ini terapi diet atau pengaturan makanan bagi penyakit degeneratif sering kali diabaikan bahkan dianggap tidak penting, Hal ini disebabkan karena kekurangtahuan masyarakat akan pentingnya pengaturan makan tersebut guna mempercepat penyembuhan penyakit. Selain itu masih banyak masyarakat yang salah memilih jenis makanan yang seharusnya disesuaikan dengan jenis penyakit yang diderita. Dari kesalahan-kesalahan tersebut banyak akibat yang ditimbulkan diantaranya penyakit tidak kunjung sembuh tetapi menjadi lebih parah, contohnya seorang penderita hipertensi masih mengkonsumsi telur asin atau kecap sehingga tekanan darahnya meningkat bahkan sampai menderita

stroke.

Kesalahan-kesalahan dalam pemberian makanan pada penyakit tersebut berkaitan dengan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai terapi gizi yang tepat untuk mempercepat penyembuhan penyakit. Hal ini disebabkan kurangnya akses informasi mengenai terapi gizi baik dari penyuluhan-penyuluhan maupun dari media cetak. Selain itu juga rasa enggan penderita untuk melakukan konsultasi gizi ke rumah sakit dengan alasan tidak mempunyai biaya. Berbagai permasalahan diatas tampaknya masyarakat membutuhkan penjelasan yang benar dan tepat mengenai prinsip dan syarat terapi diet sesuai kondisi penyakit. Model penjelasan pada masyarakat melalui konsultasi gizi langsung mungkin akan lebih efektif diberikan bagi penderita penyakit degeneratif di masyarakat. Atas dasar hal tersebut, perlu sekali dilakukan konsultasi gizi untuk meningkatkan terapi diet bagi penderita penyakit degeneratif pada ibu-ibu PKK dengan harapan penderita dapat mendapatkan makanan yang sesuai dengan penyakitnya tanpa mengeluarkan biaya yang mahal untuk konsultasi ke Rumah Sakit.

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melaksanakan salah satu bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan melakukan pengabdian pada masyarakat khususnya ibu-ibu PKK berupa konsultasi gizi , memberikan pelayanan konsultasi gizi tentang terapi diet bagi penderita penyakit degeneratif, dan memberdayakan masyarakat (penderita penyakit degeneratif ) dalam mengatasi penyakit yang dihadapi secara mandiri dengan mengatur pola makan melalui terapi diet. Diharapkan kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat bermanfaat bagi masyarakat (khususnya ibu-ibu) dapat lebih memahami peran terapi diet bagi penderita penyakit degeneratif, masyarakat lebih mewaspadai terhadap terjadinya penyakit degeneratif, dan masyarakat secara mandiri dapat melakukan terapi diet sesuai dengan penyakitnya, sehingga tidak menimbulkan dampak yang lebih berbahaya.

 

METODE PENGABDIAN

 

Metode yang dilakukan dengan memberikan konsultasi gizi secara individu atau pribadi bagi ibu-ibu atau keluarganya yang menderita penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, hipertensi, hati, diabetes mellitus, asam urat, stroke, gagal ginjal, batu ginjal, kanker dan lain-lain yang dilaksanakan bersamaan dengan pertemuan PKK RT 02 RW I Dusun Prayan, Desa Gumpang, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Kegiatan konsultasi gizi ini dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2005 dan tanggal 10 Juni 2005. Karena kegiatan konsultasi ini dilaksanakan bersamaan dengan pertemuaan dan arisan rutin bulanan maka kegiatan diawali dengan pembukaan, kemudian sambutan dari ketua pengurus PKK RT 02 RW I Dusun Prayan, Desa Gumpang, Kecamatan Kartasura, dilanjutkan dengan acara rutin yaitu pembayaran arisan, iuran, dan tabungan serta pengumumanpengumuman. Setelah acara rutin selesai dan ditutup maka kegiatan konsultasi ini baru dimulai.

Kegiatan konsultasi gizi pada tanggal 8 Mei 2005 dimulai dengan memberikan gambaran singkat tentang penyakit-penyakit degeneratif yaitu jantung, kencing manis atau diabetes melitus, darah tinggi atau hipertensi dan stroke. Kemudian dilanjutkan dengan konsultasi secara pribadi bagi ibu-ibu yang menderita atau keluarganya menderita penyakit jantung, kencing manis atau diabetes melitus, darah tinggi atau hipertensi dan stroke. Kegiatan konsultasi gizi pada tanggal 10 Juni 2005 dimulai dengan memberikan gambaran singkat tentang penyakit-penyakit degeneratif yaitu penyakit hati, penyakit ginjal, kanker, asam urat tinggi atau gout. Kemudian dilanjutkan dengan konsultasi secara pribadi bagi ibu-ibu yang menderita atau keluarganya menderita penyakit hati, penyakit ginjal, kanker, asam urat tinggi

atau gout.

Materi konsultasi yang diberikan berupa pengertian penyakit, penyebab timbulnya penyakit, penanganan secara umum, makanan yang baik, makanan yang harus dibatasi, makanan yang tidak boleh dimakan. Selain itu ibu-ibu yang berkonsultasi diajak bersama-sama menyusun makanan yang baik untuk dirinya maupun keluarganya yang sakit. Konsultasi ditutup dengan memberikan saran dan motivasi supaya hidup teratur, sehat dan patuh pada terapi diit atau makanan yang sudah dianjurkan.

Hasil kegiatan ini menunjukan bahwa ibu-ibu sangat antusias sekali menanggapi kegiatan ini dibuktikan dengan banyaknya ibu-ibu yang berkonsultasi tidak hanya masalah gizi saja tetapi juga masalah kesehatan pada umumnya. Informasi tentang kesehatan dan gizi masih sangat dibutuhkan bagi mereka karena dari hasil konsultasi terlihat jelas bahwa pengetahuan tentang penyakit yang diderita ibu-ibu atau keluarganya masih sangat rendah. Berikut ini adalah ringkasan pertanyaan atau permasalahn yang disampaikan pada saat kegiatan pengabdian yang dilakukan.

 

 

Tabel 1

Ringkasan Permasalahan yang Disampaikan serta Terapi Diit yang Diberikan pada Konsultasi Gizi

 

  1. Menanyakan tentang pengaturan makan yang baik dan benar untuk penderita       stroke Diit Stroke (Rendah kolesterol, Rendah Lemak dan Rendah Garam)
  2. Menanyakan tentang pengaturan makan yang baik dan benar untuk penderita penyakit magh atau ulkus peptikumDiit Lambung III
  3. Menanyakan tentang keluhan rasa mual dan muntah yang sering dialaminya dan makanan apa yang baik untuk mengurangi keluhan tersebut Diit Lambung III
  4. Menanyakan tentang keluhan pusing kepala dan tekanan darah yang dengan hipertensi sedang serta apa yang sebaikknya dimakan Diit Rendah Garam II
  5. Menanyakan tentang pengaturan makanan untuk orang tuanya yang menderita hipertensi berat tetapi tidak mau pantang garam Diit Rendah Garam I
  6. Kemungkinan penyakit yang ditandai dengan pegal-pegal di persendian kaki dan makanan apa yang tidak baik dikonsumsi. Penyakit Gout atau asam urat tinggi dengan Diit Rendah Purin
  7. Cara menurunkan berat badan yang aman dan tidak memperparah penyakit magh/ulkus peptikum yang dideritanya Diit Lambung III Rendah kalori II
  8. Pengaturan makan untuk penderita Diabetes mellitus dengan komplikassi gangren Diit DM dan Cara Penggunaan Daftar Bahan Makanan Penukar
  9. Pengaturan makanan untuk pemeliharaan kesehatan pasca hepatitis Diit Hati III Rendah Garam
  10. Cara pemilihan dan pengolahan makanan untuk seseorang yang mempunyai kadar kolesteroldarah yang tinggi. Diit Hiperlipoproteinemia

 

 

 

 

 

 

SIMPULAN DAN SARAN

 

Berdasarkan hasil kegiatan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penyakit degeneratif di masyarakat khususnya di RT 02 RW I Dusun Prayan Gumpang Kecamatan Kartasura cukup besar. Selain itu pengetahuan penderita dan keluarga tentang penyakit yang diderita dan bagaimana pengaturan makan yang baik untuk perbaikan dan kesembuhan penyakitnya masih rendah dan masyarakat masih menganggap bahwa pengaturan makan atau terapi diet bukanlah hal penting sebagai salah satu upaya perbaikan dan penyembuhan penyakit yang dideritanya.

Atas dasar temuan dan hasil kegiatan ini, maka perlu dikembangkan kegiatan-kegiatan serupa secara berkesinambungan melalui kelompok PKK maupun kelompok-kelompok lain di masyarakat guna meningkatkan pengetahuan kesehatan terutama gizi. Dengan demikian masyarakat mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk menangani masalah kesehatan yang dihadapinya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Azwar, S. 1998. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta:

Liberty.

Bernas. 2005. “Banyak Anak Yogya Derita Penyakit Degeneratif”. http://

http://www.indomedia.com/bernas/2010/09/UTAMA/09pell.htm Diakses

tanggal 1 Juni 2005.

Depkes RI. 1995. Teknik dan Metoda Penyuluhan Kesehatan Masyarakat.

dicetak ulang oleh Proyek PKM DIY. Yogyakarta.

Depkes RI. 1997. Profil Peran Serta masyarakat Dalam Pembangunan

Kesehatan. Jakarta: Depkes RI.

Ngadiono, Sisi lain yang diperlukan dari bidan desa: Pelayanan Kesehatan

Melalui Pendekatan Budaya. Bina Diknakes No.18 Tahun 1994.

Rahmawati, S. 2001. Dietetik I. Surakarta: Jurusan Gizi FIK UMS.

 

 

Leave a comment »

Konsulhtasi Gizi

Konsultasi gizi adalah ilmu dan seni memberikan pelayanan profesional bagi seseorang (klien) yang menghadapi masalah gizi dan perilaku makan guna mencari alternatif pemecahan masalah yang dihadapi sesuai harapan dan keunikannya(Hardinsyah, 2001)

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »