mengetahui hubungan faktor resiko penyakit Diabetes Mellitus pada penderita dan tidak penderita Diabetes

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Saat ini, masyarakat Indonesia terutama yang di perkotaan mengalami pergeseran pola konsumsi pangan. Namun, seiring dengan kemajuan zaman dan perbaikan sosial ekonomi masyarakat terjadi pula perubahan kebiasaan makan yang cenderung kebarat – baratan. Makanan jadi dan makanan siap saji telah menjadi kegemaran dan tren di masyarakat (Sulistijani, 2002).

Masyarakat umumnya belum atau kurang menyadari bahwa makanan jadi telah mengalami banyak kehilangan komponen – komponen esensial makanan, khususnya serat. Makanan siap saji juga umumnya mempunyai kandungan lemak dan protein tinggi, tetapi miskin serat. Asupan serat yang terlampau rendah dalam waktu lama akan mempengaruhi kesehatan, kegemukan, dan serangan penyakit degeneratif, salah satunya Diabetes Mellitus (Sulistijani, 2002).

Diabetes saat ini menjadi penyakit yang mulai menjangkiti penduduk di negara-negara berkembang seperti Indonesia.  WHO memperkirakan pada 2030 nanti sekitar 21,3 juta orang Indonesia terkena diabetes. Menurut Ketua Indonesian Diabetes Association (Persadia) Prof.Dr. dr. Sidartawan Soegondo SpPD-KEMD FACE, DM tipe 2 merupakan yang terbanyak diderita, yaitu sekitar 95% dari keseluruhan kasus DM. Diabetes tipe 2 adalah diabetes yang tidak terkait dengan insulin. Faktor risiko terjadinya diabetes tipe 2 antara lain adalah faktor makanan yang dikonsumsi seperti sering mengonsumsi minuman dengan pemanis gula seperti soft drinks dan fruit drink (minuman buah dalam kemasan) serta kurang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan (Reta, 2008).

Prevalensi diabetes secara menyeluruh sekitar 6% dari populasi, 90% di antaranya diabetes tipe 2. Jumlah penderita diabetes secara global terus meningkat setiap tahunnya. Menurut data yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care tahun 2004, penderita diabetes di Indonesia pada tahun 2000 mencapai 8,4 juta orang dan menduduki peringkat ke–4 setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kalinya pada tahun 2030, yaitu menjadi 21,3 juta orang (Subroto, 2006).

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kelainan metabolisme yang disebabkan kurangnya hormon insulin untuk proses metabolisme karbohidrat secara normal (Sulistijani, 2002). Insulin mempunyai peran utama dalam mengatur kadar glukosa di dalam darah yaitu memasukkan glukosa kedalam sel. Diabetes Mellitus diartikan sebagai penyakit metabolisme yang termasuk dalam kelompok gula darah yang melebihi batas normal atau hiperglikemia (lebih dari 120 mg/dl atau 120 mg%) (Utami, 2004).

Adanya masalah penyakit Diabetes Melltus yang semakin meningkat dimasyarakat akan semakin bertambah bila tidak ditangani dengan baik dan disertai dengan penerapan gaya hidup yang sehat dan kebiasaan makan yang baik. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor resiko penyakit Diabetes Mellitus pada penderita dan tidak penderita Diabetes Mellitus di Kabupaten Bogor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan Umum

            Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor resiko penyakit Diabetes Mellitus pada penderita dan tidak penderita Diabetes Mellitus (pengetahuan gizi, perilaku makan, dan gaya hidup ( lifestyle ) dengan status gizi pada masyarakat perkotaan.

Tujuan Khusus

  1. Mengidentifikasi karakteristik contoh yang meliputi : jenis kelamin, berat badan, umur, pendapatan.

2.      Mengidentifikasi kebiasaaan makan contoh meliputi : riwayat makan dan konsumsi pangan.

3.      Mengidentifikasi gaya hidup contoh meliputi : aktivitas / olahraga, kebiasan merokok dan kebiasaan mengkonsumsi alkohol.

4.      Menganalisis tingkat pengetahuan dan status gizi contoh.

5.      Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan gizi, kebiasaan makan dan gaya hidup dengan status gizi contoh.

 

Kegunaan Penelitian

            Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi kepada masyarakat terutama pada penderita penyakit Diabetes Mellitus tentang pentingnya menjaga kesehatan dengan cara meemperbaiki dan mengetahui pola makan yang baik serta gaya hidup yang sehat. Selain itu, diharapkan pula penelitian ini dapat berguna untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan di bidang kesehatan.

 

 

 

 

 

 

KERANGKA PEMIKIRAN

Perubahan gaya hidup merupakan salah satu yang dapat menimbulkan tingginya angka kasus diabetes dikarenakan  pergeseran gaya hidup masyarakat di era globalisasi, khususnya yang bermukim di kawasan perkotaan karena mudahnya mendapatkan makanan yang siap saji. Menurut buku Diabetes (2004), salah satu aspek paling menonjol adalah tingginya konsumsi makanan gaya barat yaitu tinggi karbohidrat, protein dari hewani dan lemak yang kandungan seratnya rendah serta dibarengi dengan minuman ringan yang kadar gulanya tinggi.

Perubahan gaya hidup ini juga membuat banyak orang minim gerak lantaran tinggal di dalam ruangan. Banyak anak lebih suka duduk di depan televisi dan komputer daripada menghabiskan waktu di luar rumah. Padatnya kesibukan kerja dan tingginya pemakaian kendaraan pribadi mengakibatkan orang dewasa kian minim gerak dan malas berolahraga.

Olahraga dapat secara efektif mengontrol diabetes, antara lain dengan melakukan senam khusus diabetes, berjalan kaki, bersepeda, dan berenang. Diet dipadu dengan olahraga merupakan cara efektif mengurangi berat badan, menurunkan kadar gula darah, dan mengurangi stres. Latihan teratur dapat menurunkan tekanan darah, kolesterol, dan risiko terkena serangan jantung, serta memacu pengaktifan produksi insulin dan membuatnya bekerja lebih efisien.

Kebiasaan dan pola makan yang salah juga meningkatkan risiko terkena diabetes. Kurang gizi (malnutrisi) dapat merusak pankreas, sedangkan obesitas (gemuk berlebihan) mengakibatkan gangguan kerja insulin. Kurang gizi dapat terjadi pada janin lantaran ibunya merokok atau mengonsumsi alcohol dan diet ketat.

Konsumsi pangan berkaitan erat dengan masalah gizi dan kesehatan serta perencanaan produksi pangan, maka kegiatan pengumpulan informasi tentang konsumsi pangan seseorang atau kelompok orang (keluarga, institusi) mulai disadari manfaatnya. Konsumisi pangan merupakan informasi tentang jenis dan jumlah pangan yang dimakan (dikonsumsi) seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu. Konsumsi pangan dapat ditinjau dari aspek jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi.

 

 

Genetik

Kebiasaan Makan

Ø      Riawayat Makan

Ø      Konsumsi Pangan

Karakteristik Contoh

Ø            Jenis Kelamin

Ø            Umur

Ø            Berat Badan

Ø            Pendidikan

Ø            Pendapatan

Ø            Pengetahuan      Gizi

Gaya Hidup

Ø      Aktivitas

Ø      Olahraga

Ø      Kebiasaan Merokok

Ø      Kebiasaan Minum Alkohol

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

          PENDERITA

  DIABETES MELLITUS

 

 

 

 

 

 

 

Status Gizi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PENELITIAN

Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian

Desain penelitian ini adalah Cross Sectional Study. Penelitian akan dilaksanakan di Rumah Sakit. Tempat penelitian ditentukan secara purposive, dengan pertimbangan       di Rumah Sakit tersebut banyak penderita Diabetes Mellitus. Waktu penelitian akan berlangsung selama 3 bulan pada tahun 2009.

Jumlah dan Cara Penentuan Contoh

Jumlah penderita Diabetes Mellitus yang rawat jalan sebanyak 10-15 orang setiap hari. Cara penentuan contoh dilakukan dengan  purposive sampling, dimana kriteria sampelnya adalah : 1) Penderita Diabetes Mellitus tipe II, berusia > 30 tahun; 2) Penderita Diabetes Mellitus dengan komplikasi ringan; 3) dapat berkomunikasi dengan baik dan bersedia diwawancarai.

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

            Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan  data sekunder. Jenis data primer yang dikumpulkan adalah 1) karakteristik contoh (umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan,pendidikan, dan pendapatan); 2) pengetahuan gizi 3) kebiasaaan makan (riwayat makan dan konsumsi pangan); 4) gaya hidup (aktivitas / olahraga, kebiasaan merokok, dan kebiasaan mengkonsumsi alkohol), dan status gizi (perbandingan berat badan dan tinggi badan) contoh.

            Data primer tersebut dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Data berat badan dan tinggi badan diperoleh dengan cara pengukuran langsung di tempat pengambilan data primer. Data sekunder yang dikumpulkan kadar gula darah.

 

 

 

 

 

 

 

                        Tabel 1. Jenis dan cara pengumpulan data primer

Variabel

Data yang dikumpulkan

Cara pengumpulan data

Karakteristik Contoh

1.   Umur

2.   Jenis kelamin

3.   Pendidikan

4.   Pendapatan

Wawancara (Kuesioner)

Pengetahuan Gizi

1.   Definisi zat gizi

2.   Jenis pangan untuk penderita DM

3.   Dampak diit yang tidak sesuai untuk penderita DM

Wawancara (Kuesioner)

Gaya Hidup

1.   Kebiasaan olahraga

2.   Kebiasaan merokok

3.   Kebiasaa konsumsi alkohol

Wawancara (Kuesioner)

Kebiasaan Makan

1. Riwayat makan dulu dan sekarang

     - Frekuensi makan

     - Kebiasaan sarapan

     - Jenis makanan

2. Konsumsi pangan

       -Makanan pokok

       - Lauk hewani

       - Lauk nabati

       - Sayur-sayuran

       - Buah-buahan

       - Susu dan olahannya

Wawancara (Kuesioner)

Status Gizi

1. Berat badan (kg)

2. Tinggi badan (cm)

        IMT (kg/m2)

BB diukur dengan  bathroom scale (kg)

TB diukur dengan microtoise (cm)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengolahan dan Analisis Data

Data yang akan diperoleh kemudian dilakukan proses entri, editing, dan coding, kemudian akan diolah dengan komputer menggunakan program Microsoft Excel dan dianalisis secara deskriptif dan inferensia dengan program Statistical Program for Social Science (SPSS for Windows versi 14.0). Pengolahan data karakteristik contoh (umur, jenis kelamin, pendidikan, dan sosial ekonomi) diberi kode, selanjutnya diberi kriteria untuk kategori dan disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis secara deskriptif.

Pengetahuan gizi akan diukur dengan pertanyaan tentang definisi zat gizi, jenis pangan untuk penderita Diabetes Melltius, dampak diit yang tidak sesuai untuk penderita Diabetes Mellitus. Penilaian pengetahuan gizi dilakukan dengan memberi skor. Bila menjawab tidak tahu diberi skor 0, untuk jawaban setengah benar diberi skor 1, sedangkan untuk jawaban seluruhnya benar diberi skor 2. Kategori pengetahuan gizi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kategori pengetahuan gizi tingkat rendah bila skor <60.0%, kategori pengetahuan gizi tingkat sedang bila skor 60.0-80.0%,  dan kategori pengetahuan gizi tingkat tinggi bila skor >80.0% (Khomsan 2000).

Gaya hidup diukur berdasarkan kebiasaan olahraga, kebiasaan merokok, dan kebiasaan mengkonsumsi alkohol. Kebiasaan olahraga diukur dengan frekuensi olahraga selama satu bulan terakhir, yang dikelompokkan menjadi 3, yaitu 1) frekuensi <10 kali/bulan; 2) frekuensi 10-20 kali/bulan; dan 3) frekuensi >21 kali/bulan. Penilaian kebiasaan merokok berdasarkan jumlah rokok yang dihisap dikelompokkan menjadi 4, yaitu 1) non perokok; 2) perokok ringan (1-10 batang/hari); 3) perokok sedang (11-20 batang/hari); dan 4) perokok berat (>20 batang/hari). Adapun penilaian kebiasaan konsumsi alkohol diukur berdasarkan pernah tidaknya mengkonsumsi alkohol selama satu bulan terakhir, yang dikelompokkan menjadi 2, yaitu 1) tidak (0 kali/bulan); dan 2) ya (>1 kali/bulan).

 

 

Data mengenai kebiasaan makan terdiri dari riwayat makan dahulu dan sekarang serta konsumsi pangan. Riwayat makan dahulu dan sekarang diukur dengan frekuensi makan/hari, kebiasaan sarapan, jenis makanan yang dikonsumsi. Penilaian frekuensi makan diukur berdasarkan frekuensi konsumsi dalam sehari, yang dikelompokkan menjadi 3, yaitu 1) frekuensi <2 kali/hari; 2) frekuensi 3 kali/hari; dan 3) frekuensi >4 kali/hari. Penilaian kebiasaan sarapan diukur berdasarkan frekuensi sarapan per minggu, yang dikelompokkan menjadi 4, yaitu 1) tidak pernah (0 kali/minggu); 2) jarang (1-2 kali/minggu); 3) kadang (3-4 kali/minggu); dan 4) sering (5-7 kali/minggu). Penilaian jenis makanan diukur berdasarkan susunan hidangan dalam setiap kali makan, yang dikelompokkan menjadi 3, yaitu 1) makanan pokok dan lauk pauk; 2) makanan pokok, lauk-pauk dan buah-buahan; 3) makanan pokok, lauk-pauk dan sayuran; dan 4) makanan pokok, lauk-pauk, sayuran dan buah-buahan.

Konsumsi jenis pangan diukur berdasarkan frekuensi konsumsi jenis pangan tertentu dalam satu bulan terakhir, yang dikelompokkan menjadi 4, yaitu 1) bila sama sekali tidak mengkonsumsi jenis pangan tertentu termasuk kategori tidak pernah; 2) bila mengkonsumsi jenis pangan tertentu dengan frekuensi 1-2 kali/minggu termasuk kategori jarang; 3) bila mengkonsumsi jenis pangan tertentu dengan frekuensi 3-4 kali/minggu termasuk kategori kadang; dan bila mengkonsumsi jenis pangan tertentu dengan frekuensi >5 kali/minggu termasuk kategori sering.

Status gizi contoh diukur berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT), dengan kategori sebagai berikut :

Kategori Status Gizi

Nilai IMT

Underweight

Normal

Overweight

· Pre Obese

· Obese I

· Obese II

· Obese III

<18.5

18.5-24.9

>25

25-29.9

30-34.9

35-39.9

>40

Sumber: WHO (2000)

 

Uji korelasi Spearman digunakan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan yang erat antara pengetahuan gizi, kebiasaan makan dan gaya hidup dengan status gizi contoh. Sedangkan uji beda Mann-Whitney digunakan untuk menguji signifikansi perbedaan antara karakteristik contoh, pengetahuan gizi, gaya hidup, kebiasaan makan antara penderita Diabetes Mellitus dengan bukan penderita Diabetes Mellitus.

Tabel 2. Cara pengkategorian dan analisis variabel penelitian

Variabel

Kategori Pengukuran

1. Karakteristik contoh

 

    Umur

   

1. 18 – 39 tahun (Dewasa Awal)

2. 40 – 60 tahun (Dewasa Madya)

3. > 60 tahun (Dewasa Akhir)

     Pendidikan

1. Tidak tamat SD                  4. SLTA/sederajat

2. SD/sederajat                       5. PT/sederajat

3. SLTP/sederajat

     Pendapatan

(BPS Kabupaten Bogor    2006)

1. Miskin (< Rp. 183.067,00/kap/bln)

2. Tidak miskin (> Rp. 183.067,00/kap/bln)

2. Pengetahuan Gizi

     (Khomsan 2000)

1. Rendah (skor <60.0%).

2. Sedang (skor 60.0-80.0%)

3. Tinggi (skor >80.0%)

 

3. Gaya Hidup

 

     Kebiasaan Olahraga

1. Frekuensi <10 kali/bulan

2. Frekuensi 10-20 kali/bulan

3. Frekuensi >21 kali/bulan

     Kebiasaan Merokok

1. Non perokok

2. Perokok ringan (1-10 batang/hari)

3. Perokok sedang (11-20 batang/hari)

4. Perokok berat (> 20 batang/hari)

     Konsumsi Alkohol

1. Tidak (0 kali/bulan)

2. Ya (>1 kali/bulan)

 

4. Kebiasaan Makan

 

·   Riwayat Makan

 

              Frekuensi Makan

1. Frekuensi <2 kali/hari

2. Frekuensi 3 kali/hari

3. Frekuensi >4 kali/hari

              Kebiasaan Sarapan

1. Tidak Pernah (0 kali/minggu)

2. Jarang (1-2 kali/minggu)

3. Kadang (3-4 kali/minggu)

4. Selalu (5-7 kali/minggu)

 

 

Variabel

Kategori Pengukuran

              Jenis Makanan

1. Makanan pokok dan lauk pauk

2. Makanan pokok, lauk-pauk dan buah

3. Makanan pokok, lauk-pauk dan sayur

4. Makanan pokok, lauk-pauk, sayur, buah

·         Konsumsi Pangan

1. Tidak Pernah/TP (0 kali/minggu)

2. Jarang/Jrg (1-2 kali/minggu)

3. Kadang/Kdg (3-4 kali/minggu)

4. Sering/Srg (> 5 kali/minggu)

5. Status Gizi Berdasarkan

    Indeks Massa Tubuh (IMT)

    (WHO 2000)

1. Underweight                    : IMT<18.5

2. Normal                                 : 18.5<IMT<24.9

3. Overweight                         : IMT>25

·         Pre Obese                : 25<IMT<29.9

·         Obese I                    : 30<IMT<34.9

·         Obese II                   : 35<IMT<39.9

·         Obese III                 : IMT>40             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Definisi Operasional

Penderita Diabetes Mellitus : Seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula darah diatas normal. ( 80 – 109 mg/dl).

Pendidikan : Jenjang pendidikan/sekolah formal yang pernah diikuti contoh (penderita Diabetes Melitus) berdasarkan lamanya menempuh pendidikan.

Pendapatan : Sejumlah uang yang diterima contoh sebagai penghasilan dari pekerjaannya..

Gaya Hidup : Cara contoh berinteraksi dengan lingkungannya dan melakukan kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam kehidupan sehari-hari, seperti gaya hidup sehat (berolahraga), kebiasaan merokok, dan kebiasaan minum alkohol.

Kebiasaan Makan : tingkah laku atau satu pola perilaku konsumsi manusia yang diperoleh karena terjadi berulang-ulang.

Status gizi : proses pemeriksaan keadaan gizi seseorang dengan cara mengumpulkan data penting, baik yang bersifat yang objektif maupun subjektif, untuk kemudian dibandingkan dengan baku yang telah tersedia.

Konsumisi pangan : informasi tentang jenis dan jumlah pangan yang dimakan (dikonsumsi) seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Anonim. 2000. http://www.who.int/bmi/index.jsp?intropage=intro3.html

Khomsan, A. 2000, Teknik Pengukuran Gizi. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber daya keluarga, Fakultas Pertanian, IPB.

Reta. 2008. Diet Untuk Menghindari Peningkatan Risiko Diabetes Tipe 2. http://www.perawatonline.com/index.php?option=com_content&view=article&catid=7:kep-komunitas&id=41:diet-untuk-menghindari-peningkatan-risiko-diabetes-tipe-2&Itemid=6 [19 Agustus 2008]

Subroto, Ahkam, 2006. Ramuan Herbal Untuk Diabetes Mellitus. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sulistijani, Dina Agoes, 2002. Sehat Dengan Menu Berserat. Trubus Agriwidya, Jakarta.

Utami, Prapti dan Tim Lentera, 2004. Terapi Jus untuk Diabetes Mellitus. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Waspadji,dkk.2004. Pedoman Diet Diabetes Mellitus. Balai Pustaka. FK.UI.Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: